Blog

LENGAN SI GURI GURITA ( CERITA ANAK )

Posted On April 12, 2017 at 4:49 am by / No Comments

Guri pergi mengunjungi sahabat-sahabatnya di pingir pantai. Ia membawa oleh-oleh rumput laut yang dijemur.
Ia mengetuk pintu rumah Caca, si kepiting abu-abu. “Caca, aku bawa rumput laut kesukaanmu nih.”
Caca dengan gembira menyambut Guri, “masuk Guri. Waah, terimakasih ya.”
“Main yuk, Caca.”
“Oke, main bekel yuk.”
Caca mengambil bola karet dan 6 batu kecil lalu mulai bermain. Lincah capitnya melempar bola karet dan memungut batu. Caca lalu menyerahkan bola pada Guri. Guri mengambil bola dan mencoba melempar ke atas. Tapi bola itu melekat kuat di lengan Guri.
“Guri, dilempar dong bolanya.”
“Duh, Ca, nempel ni. Uuuh..”
PANG
PONG
BRUK
PRANG!!
“Ya ampun! Guci kesayanganku!” Caca berlari menyamping dan memunguti pecahan guci berwarna kuning tersebut. Wajahnya nampak sedih. Guri merasa bersalah, “maaf, Ca. Aku tidak sengaja..” Tapi Caca hanya diam.
“Ya sudah, aku pulang saja ya, Ca..” Guri keluar dari rumah Caca dengan sedih.

Guri lalu pergi ke rumah temannya yang lain, Selly si Tiram hijau.
“Selly, aku bawa rumput laut kesukaanmu, nih.”
Selly menyambut gembira kedatangan Guri. “Masuk Guri, sudah lama tidak bertemu.”
“Main yuk, Selly.”
“Boleh, main petak umpet yuk.”
Selly bersembunyi di balik pasir sementara Guri menghitung.
“Sembilan belas..Dua puluh!”
Guri mulai mencari Selly. Dia mencari di belakang sofa, di balik lemari, namun tidak ketemu.
Guri lalu melihat cangkang hijau Selly di timbunan pasir, ia diam-diam mendekat.
“Ketemu!” Guri menepuk cangkang Selly.
Namun lengan Guri menempel pada Cangkang Selly.
“Guri, lepas dong.”
“Duh, Selly, nempel ni. Uuuh..”
POP
BRUK
PRANG!!
“Piring buahku!!”
Selly melihat piring cantik kesayangannya yang pecah dengan sedih. Air mata menetes dari balik cangkangnya.
“Maaf Selly, aku tidak sengaja..” Tapi Selly hanya diam.
“Ya sudah, aku pulang ya..”

Di perjalanan pulang, Guri berjumpa dengan Kakek Penyu.
“Lho, Guri, kenapa wajahmu nampak sedih?”
“Aku tak sengaja memecahkan guci Caca dan Piring Selly, Kakek Penyu..”
“Kenapa bisa?”
“Lengan-lengankuku menempel terus.” Guri memang memiliki delapan lengan dengan penghisap. “Semakin gugup, makin menempel kencang, Kakek..” Guri bercerita dengan sedih.
Kakek Penyu hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan perjalanannya. Guri makin sedih, mengira Kakek Penyu tidak peduli padanya.

Keesokannya, pintu rumah Guri di terumbu karang diketuk. Ia sangat kaget saat membuka pintu. “Caca dan Selly? Kukira kalian tak mau bermain denganku lagi..”
Caca mengibaskan capitnya, “tidak Guri. Kemarin Kakek Penyu menemui kami, dia bilang lenganmu memang punya lubang penghisap.”
“Iya, Guri. Kami mau main denganmu lagi, kan kamu tidak sengaja.” Ujar Selly.
Mata Guri berlinang air mata, “terimakasih ya teman-teman.”
“Tapi..” Caca dan Selly berkata bersama-sama.
“Ya?” tanya Guri.
“Kalau main di rumah kami, kamu pakai sarung lengan ini ya. Kakek Penyu membuatnya kemarin, lihat jumlah lengannya ada delapan seperti jumlah lenganmu.”
Guri merasa terharu dan memeluk Caca dan Selly, “terimakasih Caca, Selly. Terimakasih juga Kakek Penyu.”

“Umm, Guri. Lenganmu menempel di capitku.” kata Caca.
“Dan cangkangku.” sahut Selly.
“Ya ampun! Aku lupa pakai sarung lengan!” teriak Guri.
Dan ketiga sahabat itu pun tertawa.
***

Cerita ini diikutsertakan untuk Lomba Cerpen Anak yang diadakan Winner Class.

Juara 1:
Tulisan 
Riska Aryati (25 Desember 2013)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *