http://www.republika.co.id/berita/koran/leasure/14/11/25/nfl2tc5-inspirasi-eka-riani-bisnis-kaosnya-menggurita

Leisure
inspirasi- Eka Riani, Bisnis Kaosnya Menggurita

entrepreneur woman/ owner/ pemilik kaosgurita.com

Selasa, 25 November 2014, 14:15 WIB

Saat ditanya seperti apa kriteria kaos yang bagus, sebagian orang mungkin akan menjawab kaos bagus itu yang berbahan nyaman atau yang memiliki gambar menarik. Tapi, pernakah Anda berpikir bahwa kaos yang bagus merupakan kaos yang bisa ngomong? Selintas mungkin terdengar aneh ada kaos yang bisa ngomong. Tapi, kaos itu benar-benar ada. Di Bandung, Jawa Barat, ada seorang Muslimah kreatif yang memproduksinya. Dialah Eka Riani.

Lewat merek Gurita Indonesia, Eka menawarkan produk segarnya di Kota Kembang. Perempuan berusia 39 tahun ini menyusun kata-kata jenaka untuk dicetak di kaosnya. “Aku Lagi Pura-Pura Gendut”, “Sumpah Aku Pernah Kurus”, dan “If You Think I’m Dark, You Should See Dodol Garut” termasuk celetukan yang paling populer di kaos Gurita. “Sebagian kalimat yang ada di kaos saya yang menciptakan, sebagian lagi suami,” ujarnya.

Eka yang saat ini menjalani pendidikan magister bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB) menceritakan ide pembuatan kaos Gurita bermula saat Pasar Seni 2006. Ia bersama sang suami, Adrian Ariatin, turut serta menjadi peserta. Pada kesempatan itu, mereka menjual beberapa barang, seperti kaos dan pernak-pernik kerajinan tangan. Di antara produk-produk tersebut, kaoslah yang paling banyak dibeli. Dari pameran tersebut, banyak konsumen yang menanyakan lokasi toko Gurita. Eka yang kala itu belum mempunyai toko kemudian memberanikan diri memasukkan kaos tersebut ke pusat perbelanjaan Cihampelas Walk, Bandung, pada 2007.

Eka memilih memasang label Gurita untuk kaosnya dengan alasan khusus. Ia ingin bernostalgia dengan latar belakang pendidikan sarjananya di bidang biologi. Ibu dari tiga anak ini mendambakan memilki merek yang mengambil nama makhluk hidup, entah itu hewan atau tumbuhan. Dari beberapa nama yang diusulkan, terpilihlah nama Gurita. “Sesuai namanya, saya harap bisnis ini bisa menggurita,” katanya.

Untuk menambah variasi produknya, Eka mengeluarkan desain baru setiap tiga bulan sekali. Tetapi, jumlahnya tidak menentu, disesuaikan dengan situasi yang ada. “Kalau lagi masa liburan atau ada momen-momen besar, desain baru yang saya perkenalkan ke pasar jumlahnya lebih banyak,” ujarnya.

Contohnya, saat Pasar Seni ITB 2014 yang diadakan pada Ahad (23/11). Untuk ajang tahunan ini, Eka mengeluarkan 10 desain baru. Koleksi terbarunya didesain khusus untuk para pengunjung Pasar Seni ITB 2014. “Orang yang berkunjung ke sana pasti mencari produk yang unik-unik, jadi kami tidak mungkin menjual barang yang sudah ada,” kata Eka.

Kaos Gurita hanya terdiri atas dua warna, yakni hitam dan putih. Kedua warna ini dinilai paling populer di antara warna lain. Selain itu, Eka sengaja hanya memilih dua warna tersebut karena ingin memunculkan identitas dari Gurita.

Eka giat memasarkan produknya. Perempuan kelahiran Bandung, 17 Februari 1975, ini tak segan mencari informasi, memperluas jejaring, dan belajar dari pengalaman orang-orang yang sering mengikuti pameran. Usahanya pun berbuah manis. Meski merupakan produk lokal dari Bandung, Kaos Gurita pernah “terbang” hingga Malaysia. Kala itu, Bandung mengadakan pameran dagang di Malaysia dan menggandeng beberapa produk unggulan lokal untuk ikut serta. Kaos Gurita termasuk salah satunya. Eka tak menyangka merek bajunya ternyata akrab di mata warga setempat. “Sejumlah pengunjung pameran di Malaysia sudah tahu Kaos Gurita karena pernah ke Bandung,” ujarnya.

Pengalaman mengikuti pameran dagang tersebut membuat Eka mengetahui desain seperti apa yang disukai orang-orang Malaysia. Rupanya, ada desain yang tidak cocok dipasarkan di sana karena perbedaan makna suatu kata dalam bahasa Malaysia dan Indonesia. Misalnya, kaos bertuliskan “Lagi Nyamar Jadi Orang Jelek”. “Jelek” dalam bahasa Indonesia berarti buruk rupa, sedangkan di Malaysia artinya orang jahat. “Alhasil, kaos yang itu tidak laku,” kata Eka mengenang.

Kaos Gurita dibanderol harga mulai Rp 65 ribu untuk anak dan Rp 90 ribu untuk dewasa ini bisa ditemukan di Piset Mal, Jalan Cihampelas 112, Cihampelas Walk, Trans Studio Mal, dan Kartika Sari Dago di Bandung. Sebelumnya, Kaos Gurita pernah dijual di Jakarta, namun atas pertimbangan pengawasan dan kepraktisan, toko itu pun ditutup.

Melihat omzet Kaos Gurita jauh lebih besar saat bisnisnya terkonsentrasi di Bandung, Eka tak merasa berat hati menutup toko di Jakarta. Saat musim liburan, perempuan yang juga memiliki bisnis percetakan ini mampu mencapai omzet hingga Rp 300 juta dalam sebulan. “Biasanya rekor penjualan terjadi di akhir tahun,” ujarnya. ed: reiny dwinanda

***
Tak Perlu Minder

Sukses dengan usaha kaosnya, Eka berharap ke depannya dapat membuka outlet baru. Ia juga memimpikan bisa membuat buku yang berhubungan dengan Kaos Gurita. Buku tersebut ditujukan untuk mengangkat kepercayaan diri orang-orang yang minder dengan fisik kondisi mereka, seperti tulisan yang ada di kaos tersebut. “Tentunya, buku tersebut akan mengandung unsur humor,” kata Eka mengungkapkan angan-angannya.

Sebelum terjun ke dunia bisnis, Eka pernah menjajal berbagai pekerjaan. Dia pernah menjadi karyawan swasta, pengajar, hingga pegawai negeri sipil (PNS). Alasan utama Eka melepas semua pekerjaan tersebut dan memilih menjadi pengusaha, yakni kebebasan waktu. “Saya ingin waktu yang fleksibel karena punya anak,” ujarnya.

Kebebasan waktu tidak Eka dapatkan kalau tak menjadi pengusaha. Lagi pula saat menjadi karyawan, ia sering dinas ke luar kota. Dia pun merasa belum siap harus sering meninggalkan anaknya yang masih kecil.

Di samping kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, pengusaha, dan mahasiswa, Eka juga aktif dalam beberapa kegiatan komunitas. Dia tergabung dalam komunitas penggunaan internet yang aman dan komunitas bloger. Gemar berdekatan dengan alam, Eka ingin bergabung ke komunitas lain yang bergerak di bidang pertanian. Dia berharap dapat berbuat sesuatu yang berguna untuk para petani. “Saya prihatin banyak lahan rusak karena penggunaan pupuk yang tidak tepat. Akibatnya tanah mereka rusak dan hasil panen mereka pun menjadi minim,” kata Eka.

Leave a Comment